Wah kena juga neh, dapet Tugas Hari Raya (Emang masih Syawal ya?) dari Leony (Afwan ya Le, baru liat blog hari Selasa kemarin).
Rules tugasnya adalah sebagai berikut:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.
1. Dulu nama lengkap Saya sebenarnya "Dian Fitrianingsih" tapi karena buyut Saya ga bisa nyebut nama itu (katanya sih kepanjangan) akhirnya diganti "Dian Fitrianti".
2. Punya beberapa nama panggilan :
- Pekiq (baca : pekik coz dalam bahasa sasak biasanya huruf "q" dilafalkan sama dengan huruf "k").
- Opoq : hehehe....bahasa sasak juga neh, cari tau sendiri aja ya.
- yonk : nama panggilan dari Ovi n Uyunk (Teman2 SMP).
- Di : panggilan pas SMA.
- Qyonk : panggilan dari teman2 satu koridor pas masih di Asrama UI. Coz yang namanya Dian ada 3 orang maka untuk mempermudah dibedain jadi Dian Fisip, Dianes, ma Qyonk. Qyonk itu hasil gabungan nama Pekiq n Yonk. Nama itu Saya pake juga buat email n YM. Tapi kata seorang teman, namanya jelek.
- Fitri : nama panggilan dari Pak Artha (Dosen Infokes), sering diprotes kalo manggil Fitri, tapi katanya kalo nama Dian itu orangnya ga setia (Maksudnya apa Pak?)
- Nama kunyah : Ummu Thariq tapi jarang dipake cuma buat FS doang.
3. Suka banget makan kepala ikan. Wallohua'lam, katanya dulu pas mamak "ngidam" pengen makan kepala ikan satu bokoran (sasak : baskom gede banget).
4. Punya phobia ma **** (Hewan). Dulu sebenarnya ga sama sekali, tapi makin gede kok makin takut ya. Waktu itu pernah dikerjain Pak Adit background laptopnya diganti gambar itu, saya ga berani buka laptop sampe beberapa hari. Kalo ngeliat hewan itu walau cuma sekelibatan doang rasanya takut banget.
5. Sebenarnya suka petualangan n jalan-jalan, tapi karena sekarang tinggal di Depok yang relatif deket dari Jakarta jadi takut kemana-mana. Dulu sih alasannya karena takut nyebrang jalan raya (ndeso banget ya?)tapi sekarang alasannya karena ga ada mahram.
6. Pengen pindah kewarganegaraaan ke Saudi Arabia.
7. Suka banget nonton TV apalagi acara cerdas cermat dan masak-memasak. Dulu ketika masih SD biasanya mantengin acara cerdas cermat yang di TVRI terus pertanyaan n jawabannya ditulis sekalian. Ikut lomba cerdas cermat mulai kelas tiga SD n ngalahin kakak kelas yang udah kelas enam. Afwan ya ka...(pasti udah pada lupa).
8. Kata yang paling berat untuk diucapkan : Tidak. Takut bikin orang kecewa dan sakit hati.
9. Apalagi ya? Bingung...Itu doang kayaknya. Tapi kalo ada yang mau nambahin mah ga apa-apa. Tafadhol...
Rabu, 29 Oktober 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Cinta Itu Tak Terlihat

Kenapa kita menutup mata kita ketika kita tidur?
ketika kita menangis? ketika kita membayangkan ?
itu karena hal terindah di dunia ini tidak terlihat…
Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya
SEJALAN dengan kita…
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam
suatu keindahan yang serupa yang dinamakan CINTA
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan….
tapi ingatlah…..melepaskan BUKAN akhir dari dunia
Melainkan awal kehidupan baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang telah mencari…..dan mereka yang
telah mencoba
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai
betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka…..
CINTA yang AGUNG?
adalah ketika kamu menitikkan air mata dan
MASIH peduli terhadapnya…
adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu
MASIH menunggunya dengan setia
adalah ketika dia mulai mencintai yang lain dan
kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut
berbahagia untukmu’
Apabila cinta tidak berhasil….BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan
terbang ke alam bebas LAGI
Ingatlah…. bahwa kamu mungkin menemukan cinta
dan kehilangannya…
tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati
bersamanya….
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang,
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan,
Kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan
kehidupan yang telah kau buat
TEMAN SEJATI… mengerti ketika kamu
berkata ‘aku lupa….’
menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘tunggu sebentar’
tetap tinggal ketika kamu berkata ‘tinggalkan aku sendiri’
membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
berkata ‘bolehkah saya masuk?’
MENCINTAI…..
Bukanlah bagaimana kamu melupakan,
Melainkan bagaimana kamu memaafkan
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti
Bukanlah apa yang kamu lihat,
melainkan apa yang kamu rasakan
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan,
melainkan bagaimana kamu bertahan
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati
dibandingkan menangis tersedu-sedu
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air
mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang
tidak akan pernah hilang….
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG
menang…..
tapi ketika cinta itu TULUS,
meskipun kalah, kita tetap MENANG
hanya karena kamu berbahagia……..
dapat mencintai seseorang……
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri…..
Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti
mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita,
MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang
itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya
Kadang kala, orang yang kamu cintai
adalah orang yang PALING menyakiti hatimu
dan kadang kala, teman yang menangis
bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari…
nb: cover buku novel cinta yang terlambat, ngopy dari blognya Afra
Pantai Kute-Lombok
Kangen...
Jumat, 12 September 2008
Kamis, 11 September 2008
Pelecing Lombok
Ini buat para umahat n para akhwat, siapa tahu ada yang pengen nyoba bikin pelecing lombok. Yah ga bisa pergi ke lombok, paling ga pernah nyoba makanannya. Insya Allah gampang kok...(^_^)
Pelecing Ayam (Ayam bakar Taliwang)

Bahan:
• 1 ekor ayam
(usahain pake ayam kampung yaaa...)
• 2 sdm minyak goreng
• 1 sdm air
• 3 bh jeruk limau
Haluskan:
• 3 siung bawang putih
• 1 bh cabai merah
• 5 bh cabe rawit lombok (beda dari cabe rawit biasa)
• 1/4 sdt terasi lombok (beda pengolahan bahan terasinya)
• 1/2 sdt garam
Cara membuat:
1. Bersihkan ayam, dibelah bagian dadanya tetapi tidak sampai putus, keluarkan isi perutnya.
2. Tusuk ayam dengan bambu, panggang di atas bara arang sampai matang.
3. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan dengan minyak goreng, air, dan air jeruk limau
4. Olesi ayam panggang dengan campuran bumbu sampai rata
5. Panggang lagi sambil dibolak-balik sampai bumbu meresap, sajikan.
Pelecing Kangkung Lombok

Bahan:
• 500 gr kangkung lombok (kalo bisa pake kangkung lombok)
• 1 sdt garam
• 3 bh jeruk limau
Haluskan:
• 5 bh bawang merah, bakar
• 10 bh cabe rawit lombok, bakar
• 2 sdt terasi lombok, bakar
• 5 btr kemiri, bakar
Cara membuat:
1. Rebus kangkung sampai matang, angkat dan tiriskan. Bisa juga ditambahin dengan variasi kecambah, kacang panjang (sama2 direbus).
2. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan bersama minyak goreng, garam, dan air jeruk limau.
3. Sajikan kangkung rebus dengan sambal.
4. Bisa ditambahin parutan kelapa goreng dan kacang tanah goreng
dian dapet disini nih resepnya: terune.wordpress.com
Pelecing Ayam (Ayam bakar Taliwang)

Bahan:
• 1 ekor ayam
(usahain pake ayam kampung yaaa...)
• 2 sdm minyak goreng
• 1 sdm air
• 3 bh jeruk limau
Haluskan:
• 3 siung bawang putih
• 1 bh cabai merah
• 5 bh cabe rawit lombok (beda dari cabe rawit biasa)
• 1/4 sdt terasi lombok (beda pengolahan bahan terasinya)
• 1/2 sdt garam
Cara membuat:
1. Bersihkan ayam, dibelah bagian dadanya tetapi tidak sampai putus, keluarkan isi perutnya.
2. Tusuk ayam dengan bambu, panggang di atas bara arang sampai matang.
3. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan dengan minyak goreng, air, dan air jeruk limau
4. Olesi ayam panggang dengan campuran bumbu sampai rata
5. Panggang lagi sambil dibolak-balik sampai bumbu meresap, sajikan.
Pelecing Kangkung Lombok

Bahan:
• 500 gr kangkung lombok (kalo bisa pake kangkung lombok)
• 1 sdt garam
• 3 bh jeruk limau
Haluskan:
• 5 bh bawang merah, bakar
• 10 bh cabe rawit lombok, bakar
• 2 sdt terasi lombok, bakar
• 5 btr kemiri, bakar
Cara membuat:
1. Rebus kangkung sampai matang, angkat dan tiriskan. Bisa juga ditambahin dengan variasi kecambah, kacang panjang (sama2 direbus).
2. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan bersama minyak goreng, garam, dan air jeruk limau.
3. Sajikan kangkung rebus dengan sambal.
4. Bisa ditambahin parutan kelapa goreng dan kacang tanah goreng
dian dapet disini nih resepnya: terune.wordpress.com
Rabu, 10 September 2008
Sepercik Pelajaran dari Mudik Lebaran
Sebentar lagi mau pulang kampung neh ceritanya, terus tadi nyoba "jalan-jalan" ke salafy ITB, nemu tulisan yang inspiratif banget. Semoga bermanfaat...
Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang ‘Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata: “pulang”.
Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang.
Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.
Singkatnya, pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman, dan lain sebagainya.
Imam Ibnul Qayyim bersyair,
نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى * مَا الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الْأَوَّلِ
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَـتَى * وَحَـنِيْنُهُ أَبَدًا لِأَوَّلِ مَنْـزِلِ
Pindahkanlah hatimu sesuai selera
tapi tiadalah cinta melainkan kekasih pertama
Berapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemuda
tapi kerinduannya senantiasa pada persinggahan pertama
Kenyataan yang sebenarnya, kampung halaman dan tempat tinggal kita di dunia ini hanyalah merupakan asal muasal yang bersifat relatif. Tempat tinggal kita yang hakiki akan kita jumpai setelah kematian. Ke negeri akhirat kita akan pulang, dan di sana adalah rumah kita yang sejati. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Mungkin, penyebab kegundahan yang terkadang tiba-tiba melanda diri kita, yang kita bingung dari mana asalnya, adalah karena desakan sekeping kerinduan yang terbungkus terhadap kampung halaman kita yang sejati. Kerinduan dalam fithrah manusia yang tertutupi oleh kecohan keindahan dunia yang semu dan fana….
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).’” (QS. Al-A’rāf [7]: 172)
Terkait dengan penafsiran ayat di atas, kitab-kitab tafsir mencantumkan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa dahulu Allah mengeluarkan seluruh jiwa manusia dari sulbi Adam untuk diambil persaksiannya, sebagaimana dalam ayat (lihat misalnya: Tafsīr Ibn Katsīr). Secara zhahir riwayat, pengambilan persaksian tersebut dilakukan langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Peristiwa tersebut jelas jauh terjadi sebelum kelahiran manusia itu sendiri.
Para psikolog dapat dikatakan bersepakat bahwa apa yang dialami sebelum kelahiran dapat berpengaruh terhadap alam bawah sadar (subconscious) seseorang, meskipun yang bersangkutan tidak mampu mengingat hal-hal tersebut. Sebab, jangankan untuk mengingat peristiwa yang terjadi jauh sebelum kelahiran, peristiwa yang terjadi pada usia kurang lima tahun saja sangat sulit untuk diingat.
Alam bawah sadar memegang peranan krusial dalam diri seseorang. Citra diri, emosi bawaan, dan dasar tingkah laku seseorang mayoritasnya ditentukan oleh alam bawah sadar dibandingkan alam sadar (conscious). Alam bawah sadar juga lebih dominan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Gaya berjalan, berbicara, berpikir, dan lain-lain, lebih ditentukan oleh alam bawah sadar. Karena itulah ahli psikologi menyatakan bahwa pembinaan anak seyogyanya dimulai jauh sebelum anak tersebut lahir, yakni terkait dengan upaya membangun alam bawah sadar sang anak secara baik. Hal ini pun selaras dengan tuntunan syariat Islam.
Lalu apa kaitannya dengan ayat yang disebutkan sebelumnya?
Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya.
Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Namun, kita sering kali terkecoh. Fithrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta’ān.
Akan tetapi, meskipun dengan segala dosa dan kesalahan kita yang menggunung, namun semoga kita senantiasa dapat menjadi orang-orang yang selalu berusaha kembali meniti rindang jalan Ilahi….
Demikian, semoga ada manfaatnya. WaLlāhu a’lam bish shawāb.
So, apakah Anda juga termasuk orang-orang yang ber-mudik ria untuk lebaran? ^_^
Salam,
Abū Fāris an-Nuri
NB: Ide dan inti dari tulisan ini pada asalnya merupakan ceramah Direktur Utama dari salah satu LKS (dengan perubahan dan penambahan), semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua dan beliau kepada hal-hal yang dicintai-Nya.
liat disini: salafyitb.wordpress.com
Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang ‘Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata: “pulang”.
Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang.
Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.
Singkatnya, pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman, dan lain sebagainya.
Imam Ibnul Qayyim bersyair,
نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى * مَا الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الْأَوَّلِ
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَـتَى * وَحَـنِيْنُهُ أَبَدًا لِأَوَّلِ مَنْـزِلِ
Pindahkanlah hatimu sesuai selera
tapi tiadalah cinta melainkan kekasih pertama
Berapa banyak tempat di bumi yang disinggahi pemuda
tapi kerinduannya senantiasa pada persinggahan pertama
Kenyataan yang sebenarnya, kampung halaman dan tempat tinggal kita di dunia ini hanyalah merupakan asal muasal yang bersifat relatif. Tempat tinggal kita yang hakiki akan kita jumpai setelah kematian. Ke negeri akhirat kita akan pulang, dan di sana adalah rumah kita yang sejati. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Mungkin, penyebab kegundahan yang terkadang tiba-tiba melanda diri kita, yang kita bingung dari mana asalnya, adalah karena desakan sekeping kerinduan yang terbungkus terhadap kampung halaman kita yang sejati. Kerinduan dalam fithrah manusia yang tertutupi oleh kecohan keindahan dunia yang semu dan fana….
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).’” (QS. Al-A’rāf [7]: 172)
Terkait dengan penafsiran ayat di atas, kitab-kitab tafsir mencantumkan berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa dahulu Allah mengeluarkan seluruh jiwa manusia dari sulbi Adam untuk diambil persaksiannya, sebagaimana dalam ayat (lihat misalnya: Tafsīr Ibn Katsīr). Secara zhahir riwayat, pengambilan persaksian tersebut dilakukan langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Peristiwa tersebut jelas jauh terjadi sebelum kelahiran manusia itu sendiri.
Para psikolog dapat dikatakan bersepakat bahwa apa yang dialami sebelum kelahiran dapat berpengaruh terhadap alam bawah sadar (subconscious) seseorang, meskipun yang bersangkutan tidak mampu mengingat hal-hal tersebut. Sebab, jangankan untuk mengingat peristiwa yang terjadi jauh sebelum kelahiran, peristiwa yang terjadi pada usia kurang lima tahun saja sangat sulit untuk diingat.
Alam bawah sadar memegang peranan krusial dalam diri seseorang. Citra diri, emosi bawaan, dan dasar tingkah laku seseorang mayoritasnya ditentukan oleh alam bawah sadar dibandingkan alam sadar (conscious). Alam bawah sadar juga lebih dominan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Gaya berjalan, berbicara, berpikir, dan lain-lain, lebih ditentukan oleh alam bawah sadar. Karena itulah ahli psikologi menyatakan bahwa pembinaan anak seyogyanya dimulai jauh sebelum anak tersebut lahir, yakni terkait dengan upaya membangun alam bawah sadar sang anak secara baik. Hal ini pun selaras dengan tuntunan syariat Islam.
Lalu apa kaitannya dengan ayat yang disebutkan sebelumnya?
Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya.
Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Namun, kita sering kali terkecoh. Fithrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta’ān.
Akan tetapi, meskipun dengan segala dosa dan kesalahan kita yang menggunung, namun semoga kita senantiasa dapat menjadi orang-orang yang selalu berusaha kembali meniti rindang jalan Ilahi….
Demikian, semoga ada manfaatnya. WaLlāhu a’lam bish shawāb.
So, apakah Anda juga termasuk orang-orang yang ber-mudik ria untuk lebaran? ^_^
Salam,
Abū Fāris an-Nuri
NB: Ide dan inti dari tulisan ini pada asalnya merupakan ceramah Direktur Utama dari salah satu LKS (dengan perubahan dan penambahan), semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua dan beliau kepada hal-hal yang dicintai-Nya.
liat disini: salafyitb.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)






